JAKARTA, Index Sumut – Pergerakan harga emas dunia terpantau stabil pada perdagangan Selasa (13/1/2026) pagi. Meski belum menunjukkan lonjakan signifikan, para analis menilai peluang emas untuk kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa masih terbuka lebar.

Saat berita ini ditulis, harga emas bertengger di level US$ 4.597,62 per ons troi. Posisi tersebut relatif dekat dengan rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di level US$ 4.630,47 per ons troi yang tercatat pada perdagangan Senin (12/1/2026).

Analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, menilai stabilnya harga emas justru mencerminkan kekuatan tren yang tengah berlangsung. Menurutnya, logam mulia masih mendapat dukungan kuat dari meningkatnya minat investor terhadap aset aman (safe haven), seiring memburuknya ketidakpastian politik dan keuangan di Amerika Serikat.

Salah satu pemicu utama, kata Andy, adalah langkah Departemen Kehakiman AS yang mengajukan tuntutan terhadap Ketua The Fed Jerome Powell, terkait proyek renovasi gedung bank sentral. Perkembangan ini memicu spekulasi pasar mengenai tekanan terhadap independensi bank sentral AS.

“Struktur teknikal emas saat ini menunjukkan tren bullish yang semakin solid. Kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average mengonfirmasi bahwa tekanan beli masih mendominasi pasar, meski harga telah mencetak rekor tertinggi baru,” ujar Andy dalam risetnya yang dikutip dari investor.id, Selasa (13/1).

Secara teknikal, Andy menjelaskan bahwa selama harga mampu bertahan di atas area penopang jangka pendek, reli emas berpeluang berlanjut. Dalam proyeksi harian, emas berpotensi menguji level US$ 4.650 per ons troi sebagai target kenaikan selanjutnya.

Meski demikian, ia mengingatkan pelaku pasar untuk tetap mewaspadai potensi koreksi teknis. Jika momentum bullish melemah, area US$ 4.565 per ons troi diperkirakan menjadi level support terdekat yang dapat menahan tekanan jual.

Dari sisi fundamental, reli emas saat ini juga didorong oleh eskalasi risiko politik dan keuangan di AS. Jerome Powell mengungkapkan bahwa dirinya tengah berada dalam penyelidikan kriminal setelah Departemen Kehakiman AS mengeluarkan surat panggilan terkait kesaksiannya di hadapan Komite Perbankan Senat, menyangkut proyek renovasi bernilai miliaran dolar untuk kantor pusat The Fed.

Powell menilai langkah tersebut sebagai bentuk tekanan agar bank sentral memangkas suku bunga. Situasi ini, menurut Andy, memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas kebijakan moneter AS dan mendorong investor global mengalihkan dana ke aset safe haven seperti emas.

Selain faktor domestik AS, ketegangan geopolitik global turut memperkuat daya tarik emas. Hubungan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Presiden Donald Trump mengancam akan menjatuhkan sanksi dan tarif terhadap negara maupun perusahaan yang tetap menjalin kerja sama bisnis dengan Teheran.
Di saat yang sama, Iran memperingatkan AS dan Israel agar tidak melakukan intervensi.

“Lingkungan geopolitik yang semakin rapuh ini memperkuat permintaan emas sebagai pelindung nilai di tengah meningkatnya risiko konflik global,” jelas Andy.

Dari sisi makroekonomi, perhatian pasar kini tertuju pada rilis data inflasi Indeks Harga Konsumen (CPI) AS. Jika inflasi tercatat lebih tinggi dari perkiraan, dolar AS berpotensi menguat dan menekan harga emas dalam jangka pendek.

Namun demikian, data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari ekspektasi—ditandai dengan perlambatan pertumbuhan lapangan kerja meski tingkat pengangguran menurun—masih menjaga spekulasi bahwa The Fed memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan moneternya.

Kondisi ini dinilai tetap menjadi faktor pendukung bagi pergerakan emas.
Secara keseluruhan, Andy menilai prospek emas dalam jangka pendek hingga menengah masih cenderung positif. Selama ketidakpastian politik di AS, ketegangan geopolitik, serta ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar terus membayangi pasar, emas diperkirakan tetap berada dalam jalur bullish.

“Meski volatilitas berpeluang meningkat seiring respons pasar terhadap rilis data ekonomi dan perkembangan geopolitik terbaru,” pungkasnya. (Inid)

Share: