MEDAN, Index Sumut – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan hari ini, Rabu (14/1/2026) dengan kinerja positif. Pada sesi pembukaan, IHSG sempat menguat dan menembus level psikologis 9.000, tepatnya di posisi 9.021. Meski demikian, penguatan tersebut belum bertahan lama dan IHSG kembali bergerak fluktuatif dengan transaksi di bawah level 9.000.

Pengamat Pasar Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai penguatan IHSG masih sejalan dengan pergerakan bursa saham Asia yang cenderung menguat meski bergerak beragam (mixed).

“IHSG masih mendapat dukungan dari sentimen global, terutama dari bursa Asia yang bergerak relatif positif. Namun tekanan jangka pendek tetap ada sehingga pergerakan IHSG belum sepenuhnya stabil di atas level 9.000,” ujar Gunawan, Rabu (14/1).

Menurutnya, sentimen utama yang memengaruhi pasar keuangan saat ini berasal dari rilis data inflasi Amerika Serikat. Data menunjukkan inflasi AS pada Desember tercatat sebesar 0,3 persen secara bulanan dan 0,7 persen secara tahunan (year-on-year). Sementara itu, inflasi inti AS berada di level 0,2 persen secara bulanan dan 2,6 persen secara tahunan, atau lebih rendah 0,1 persen dari ekspektasi pasar.

“Inflasi inti AS yang lebih rendah dari perkiraan membuka ruang spekulasi bahwa The Fed masih berpeluang memangkas suku bunga acuannya. Ini menjadi sentimen positif bagi aset berisiko, termasuk saham,” jelas Gunawan.

Namun demikian, data inflasi AS tersebut justru mendorong penguatan USD Index ke atas level 99,29. Penguatan dolar AS turut memengaruhi pergerakan mata uang global, meski Gunawan menilai rupiah masih relatif stabil.

“Rupiah sejauh ini masih bergerak stabil di kisaran Rp16.860 per dolar AS, meskipun tekanan dari penguatan dolar AS tetap perlu diwaspadai,” tambahnya.

Di sisi lain, harga emas dunia kembali mencatatkan penguatan dan bertahan di level tinggi. Emas dunia diperdagangkan di kisaran US$4.618 per ons troi, dengan harga emas domestik setara berada di sekitar Rp2,51 juta per gram.

Gunawan menyebut lonjakan harga emas mencerminkan kuatnya minat investor terhadap aset lindung nilai.

“Kenaikan harga emas yang signifikan menunjukkan bahwa kombinasi kebijakan moneter longgar dan tensi geopolitik global masih menjadi katalis positif bagi emas, terutama di awal tahun 2026,” tutupnya. (R)

Share: