MEDAN, Index Sumut – Kinerja impor Provinsi Sumatera Utara pada triwulan pertama 2026 tercatat mengalami penurunan tipis. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai impor melalui Sumatera Utara periode Januari–Maret 2026 sebesar US$1,27 miliar atau turun 0,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara, Asim Saputra, mengatakan, secara tahunan penurunan juga terjadi pada bulan Maret 2026.

“Jika dibandingkan Maret 2025, nilai impor pada Maret 2026 mengalami penurunan cukup dalam, yakni sebesar 15,15 persen,” ujarnya, dalam keterangan persnya, Senin (4/5).

Dari sisi penggunaan, impor Sumatera Utara masih didominasi oleh bahan baku/penolong. Sepanjang Januari–Maret 2026, impor bahan baku mencapai US$1,04 miliar atau berkontribusi sebesar 81,38 persen dari total impor.

“Sementara itu, impor barang konsumsi tercatat sebesar US$139,91 juta atau 10,99 persen, dan impor barang modal sebesar US$97,21 juta atau 7,64 persen,” jelas Asim.

Berdasarkan jenis komoditas, impor terbesar berasal dari golongan bahan bakar mineral dengan nilai US$232,52 juta, diikuti mesin-mesin atau pesawat mekanik sebesar US$120,15 juta.

Namun demikian, terdapat beberapa komoditas yang mengalami penurunan signifikan. Bahan kimia anorganik mencatat penurunan terbesar sebesar US$43,18 juta atau 50,68 persen, disusul mesin-mesin/pesawat mekanik yang turun US$30,83 juta atau 20,42 persen.

Di sisi lain, peningkatan impor tertinggi terjadi pada bahan bakar mineral yang naik US$26,49 juta atau 12,86 persen, serta komoditas gandum-ganduman yang meningkat US$20,59 juta atau 65,41 persen.

“Asim menambahkan, sepuluh golongan barang utama masih mendominasi impor dengan kontribusi sebesar 67,46 persen, di mana bahan bakar mineral memberikan andil terbesar sebesar 18,26 persen,” katanya.

Dari sisi negara asal, impor Sumatera Utara terbesar berasal dari kawasan Asia di luar ASEAN sebesar 35,11 persen, disusul ASEAN sebesar 33,04 persen.

Tiga negara pemasok utama adalah Tiongkok dengan nilai US$334,00 juta atau 26,23 persen, Singapura sebesar US$193,52 juta atau 15,20 persen, dan Malaysia sebesar US$140,95 juta atau 11,07 persen.

Secara keseluruhan, sepuluh negara utama menyumbang 81,18 persen dari total impor Sumatera Utara. Namun, nilai impor dari kelompok negara tersebut mengalami penurunan sebesar 2,28 persen dibandingkan periode Januari–Maret 2025.

“Kondisi ini menunjukkan aktivitas impor relatif stabil, meski ada penyesuaian pada beberapa komoditas utama, terutama bahan baku industri,” pungkas Asim. (R)

Share: