MEDAN, Index Sumut – Perekonomian Provinsi Sumatera Utara pada Triwulan I Tahun 2026 mengalami kontraksi sebesar 0,28 persen secara kuartalan (q-to-q) dibandingkan Triwulan IV Tahun 2025. Meski demikian, secara tahunan (year-on-year/y-on-y), ekonomi Sumut masih mencatat pertumbuhan sebesar 4,98 persen.
Statistisi Ahli Utama Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara, Misfaruddin, menjelaskan bahwa kontraksi secara kuartalan dipengaruhi oleh penurunan kinerja di sejumlah lapangan usaha.
“Beberapa sektor mengalami kontraksi cukup dalam, seperti jasa kesehatan dan kegiatan sosial yang turun 8,54 persen, diikuti pengadaan air dan pengelolaan limbah sebesar 7,96 persen, serta pengadaan listrik dan gas sebesar 3,76 persen,” ujarnya.
Selain itu, sektor konstruksi juga mengalami kontraksi sebesar 3,63 persen, disusul pertambangan dan penggalian 2,01 persen, real estat 1,59 persen, serta industri pengolahan yang turun 0,41 persen.
“Di sisi lain, beberapa sektor masih tumbuh, seperti jasa perusahaan sebesar 3,52 persen, penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 1,95 persen, serta transportasi dan pergudangan sebesar 1,71 persen,” tambah Misfarudin.
Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara tercatat sebesar 4,98 persen dengan kontribusi dari hampir seluruh lapangan usaha. Sektor dengan pertumbuhan tertinggi adalah penyediaan akomodasi dan makan minum yang melonjak 18,62 persen.
“Selain itu, jasa lainnya tumbuh 14,91 persen, informasi dan komunikasi 11,35 persen, perdagangan besar dan eceran 10,63 persen, serta jasa perusahaan 9,95 persen,” jelasnya.
Namun, terdapat beberapa sektor yang masih mengalami kontraksi secara tahunan, seperti pengadaan listrik dan gas sebesar 2,60 persen serta pengadaan air dan pengelolaan limbah yang turun tipis 0,02 persen.
Dari sisi pengeluaran, kontraksi ekonomi secara kuartalan terutama dipicu oleh turunnya beberapa komponen utama.
“Pengeluaran konsumsi pemerintah mengalami kontraksi sebesar 9,41 persen, diikuti konsumsi lembaga non profit sebesar 3,59 persen, pembentukan modal tetap bruto 3,10 persen, serta ekspor barang dan jasa 2,76 persen,” ungkap Misfaruddin.
Sementara itu, konsumsi rumah tangga masih mencatat pertumbuhan sebesar 1,30 persen dan menjadi penopang utama ekonomi. Di sisi lain, impor barang dan jasa yang merupakan komponen pengurang juga mengalami kontraksi sebesar 2,88 persen.
Struktur ekonomi Sumatera Utara masih didominasi oleh konsumsi rumah tangga dengan kontribusi sebesar 51,65 persen.
“Diikuti oleh ekspor barang dan jasa sebesar 39,73 persen, pembentukan modal tetap bruto 27,04 persen, konsumsi pemerintah 5,22 persen, serta konsumsi lembaga non profit sebesar 0,94 persen,” katanya.
Secara tahunan, seluruh komponen pengeluaran menunjukkan pertumbuhan positif. Konsumsi lembaga non profit tumbuh paling tinggi sebesar 11,24 persen, diikuti konsumsi pemerintah 9,82 persen, konsumsi rumah tangga 5,03 persen, investasi (PMTB) 3,61 persen, serta ekspor 2,67 persen.
Dalam konteks regional, Sumatera Utara masih menjadi salah satu kontributor utama perekonomian di Pulau Sumatera.
“Kontribusi ekonomi Sumut mencapai 23,50 persen terhadap total perekonomian Sumatera, berada di atas Riau yang sebesar 23,29 persen dan Sumatera Selatan 13,60 persen,” jelas Misfaruddin.
Namun, dari sisi pertumbuhan, Sumatera Utara berada di peringkat kelima dari 10 provinsi di Pulau Sumatera dengan pertumbuhan 4,98 persen. Posisi pertama ditempati Kepulauan Riau dengan pertumbuhan 7,04 persen, diikuti Lampung 5,58 persen, dan Sumatera Selatan 5,34 persen.
Secara keseluruhan, meskipun mengalami tekanan secara kuartalan, ekonomi Sumatera Utara tetap menunjukkan kinerja positif secara tahunan dengan konsumsi rumah tangga sebagai penopang utama pertumbuhan. (R)





