MEDAN, Index Sumut – Memanasnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali mengguncang pasar keuangan global. Aksi saling serang di kawasan Selat Hormuz membuat investor memilih keluar dari aset berisiko, sehingga mayoritas bursa saham Asia bergerak di zona merah, termasuk pasar keuangan Indonesia.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebenarnya sempat dibuka menguat ke level 7.182 pada awal perdagangan. Namun tekanan jual kembali mendominasi sehingga IHSG bergerak melemah dan mendekati level psikologis 7.100.
“Ketegangan geopolitik antara AS dan Iran membuat pelaku pasar kembali mencari aset aman. Sentimen ini menekan kinerja pasar saham dan mata uang di emerging market, termasuk Indonesia,” ujar Gunawan, Jumat (8/5/2026).
Menurutnya, lonjakan harga minyak mentah dunia menjadi salah satu pemicu utama tekanan pasar. Harga minyak Brent saat ini kembali naik dan diperdagangkan di kisaran US$101 per barel. Kondisi tersebut dinilai membuka peluang meningkatnya tekanan inflasi global.
Di sisi lain, nilai tukar Rupiah juga kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat dan ditransaksikan di kisaran Rp17.370 per dolar AS. Meski demikian, Gunawan memperkirakan pelemahan IHSG maupun Rupiah masih dalam kategori terbatas.
“Rupiah diproyeksikan bergerak di rentang Rp17.330 hingga Rp17.380 per dolar AS. Sementara IHSG berpotensi menguji level support di 7.100 apabila tekanan pasar terus berlanjut,” katanya.
Pelaku pasar, lanjut Gunawan, kini menanti rilis data cadangan devisa Indonesia yang diperkirakan menjadi sentimen penting bagi pergerakan Rupiah. Tekanan terhadap mata uang domestik belakangan ini juga memunculkan spekulasi terkait besarnya intervensi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
“Rilis cadangan devisa menjadi sangat penting karena pasar ingin melihat seberapa kuat ketahanan eksternal Indonesia di tengah meningkatnya kebutuhan valuta asing akibat dampak perang dan kenaikan harga energi,” jelasnya.
Sementara itu, harga emas dunia tercatat bergerak stabil dengan kecenderungan melemah. Emas diperdagangkan di kisaran US$4.722 per ons troy atau sekitar Rp2,65 juta per gram. (R)





