JAKARTA, Index Sumut – Keputusan Amerika Serikat (AS) menunda serangan terhadap Iran untuk sementara waktu belum mampu mengangkat kinerja mata uang rupiah. Pada perdagangan pagi ini, rupiah justru kembali melemah hingga menembus level Rp17.700 per dolar AS di tengah tekanan eksternal yang masih kuat.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, penundaan serangan AS ke Iran sempat memberikan sentimen positif bagi pasar global, terutama setelah harga minyak mentah dunia mengalami koreksi tipis.
“Harga minyak mentah dunia bergerak turun dalam rentang USD102 hingga USD109 per barel. Penundaan serangan AS ke Iran membuat kekhawatiran pasar sedikit mereda sehingga harga minyak mengalami koreksi,” ujar Gunawan, Selasa (19/5/2026).
Menurutnya, koreksi harga minyak tersebut sempat mendorong penguatan mayoritas pasar saham Asia yang diperdagangkan di zona hijau pada pagi hari. Namun sentimen positif itu belum mampu mengangkat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
“IHSG justru dibuka melemah di level 6.599. Pelaku pasar melihat penundaan serangan ini hanya bersifat sementara sehingga momentum yang ada lebih dimanfaatkan untuk transaksi jangka pendek atau hit and run,” katanya.
Gunawan menjelaskan, pelemahan rupiah masih dipicu oleh naiknya imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun atau US Treasury yang mencapai 4,597 persen. Selain itu, indeks dolar AS atau USD Index juga masih bertahan tinggi di level 99,05.
“Kenaikan harga minyak sebelumnya memunculkan spekulasi bahwa Bank Sentral AS berpotensi menghentikan kebijakan moneter longgarnya. Ini membuat dolar AS kembali menguat dan memberikan tekanan tambahan kepada rupiah,” jelasnya.
Sementara itu, harga emas dunia pada perdagangan hari ini terpantau stabil dengan kecenderungan menguat terbatas. Emas diperdagangkan di kisaran USD4.554 per ons troy atau sekitar Rp2,6 juta per gram.
Menurut Gunawan, pasar masih melihat risiko geopolitik di Timur Tengah belum benar-benar mereda meskipun serangan AS terhadap Iran ditunda.
“Pasar menilai situasi ini hanya penundaan sementara. Investor tetap bersiap terhadap kemungkinan eskalasi konflik dalam waktu dekat sehingga harga emas masih bertahan kuat sebagai aset safe haven,” pungkasnya. (R)





