JAKARTA, Index Sumut – Pengembangan proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di berbagai daerah diproyeksikan menjadi penggerak baru penciptaan lapangan kerja. Sebanyak 33 fasilitas Waste-to-Energy (WtE) yang akan dikembangkan diperkirakan mampu menyerap hingga 130 ribu tenaga kerja, mulai dari tahap konstruksi hingga operasional.
PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera), perusahaan pengelolaan sampah terintegrasi yang merupakan bagian dari ekosistem Danantara Indonesia, memastikan pengembangan proyek tersebut akan mengutamakan keterlibatan tenaga kerja lokal di setiap daerah lokasi pembangunan.
Chief Executive Officer Denera, Fadli Rahman mengatakan, kolaborasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat sekitar menjadi salah satu fokus utama agar manfaat proyek dapat dirasakan secara luas.
“Kami memastikan kolaborasi dengan pemerintah daerah dan pihak lokal berjalan dengan baik, termasuk memaksimalkan penggunaan tenaga kerja lokal,” ujarnya dalam keterangan resmi, dilansir dari liputan6.com, Minggu (5/7/2026).
Berdasarkan proyeksi Danantara Indonesia, setiap pembangunan fasilitas PSEL membutuhkan sekitar 500 hingga 1.000 pekerja selama masa konstruksi. Secara keseluruhan, kebutuhan tenaga kerja dari proses pembangunan hingga pengoperasian 33 fasilitas tersebut diperkirakan mencapai 130 ribu orang, sehingga diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat di sekitar lokasi proyek.
Selain membuka lapangan kerja, proyek Waste-to-Energy juga diharapkan menjadi solusi dalam mengatasi persoalan sampah yang terus meningkat di Indonesia.
Fadli Rahman menilai persoalan sampah kini telah berkembang menjadi isu lintas generasi yang berdampak terhadap kualitas hidup masyarakat. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen untuk turut berpartisipasi dalam pengelolaan sampah, mulai dari pemilahan di tingkat rumah tangga hingga mendukung penerapan teknologi pengolahan sampah modern.
“Mari kita bersama-sama mendukung setiap upaya yang dapat menjadi solusi bagi persoalan sampah di Indonesia,” kata Fadli Rahman.
Menurutnya, keberhasilan proyek Waste-to-Energy tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fasilitas, tetapi juga membutuhkan dukungan masyarakat agar sistem pengelolaan sampah dapat berjalan secara berkelanjutan.
Sementara itu, Sustainability Provocateur sekaligus Founder Social Investment Indonesia, Jalal, menilai pembangunan fasilitas Waste-to-Energy harus diiringi dengan penguatan budaya pemilahan sampah sejak dari sumbernya, baik di rumah tangga, kawasan komersial, maupun industri.
Ia menjelaskan, tantangan pengelolaan sampah di Indonesia tidak hanya terletak pada aspek teknologi, tetapi juga karakteristik sampah yang masih didominasi limbah organik dengan kadar air tinggi sehingga memerlukan proses pemilahan sebelum diolah.
Jalal juga menegaskan pentingnya pelibatan masyarakat secara aktif dalam setiap tahapan pembangunan proyek.
“Partisipasi masyarakat bukan sekadar formalitas dalam proses perizinan. Warga sekitar harus dilibatkan sejak tahap perencanaan, mendapatkan akses terhadap informasi emisi secara terbuka, serta memperoleh manfaat nyata dari proyek yang dibangun. Tanpa itu, WtE berpotensi kehilangan legitimasi sosial yang justru menjadi fondasi keberlanjutannya,” kata Jalal.
Menurutnya, pendekatan tersebut akan memastikan proyek pengolahan sampah menjadi energi tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi dan sosial yang berkelanjutan bagi masyarakat di sekitar lokasi pembangunan. (lip6)





