MEDAN, Index Sumut – Pergerakan pasar keuangan pada Jumat (17/7/2026) diperkirakan cenderung terbatas. Minimnya sentimen baru dari pasar global membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak sideways, meski tensi geopolitik di Timur Tengah masih menjadi perhatian investor.

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, data ekonomi Amerika Serikat yang dirilis semalam belum mampu menjadi penggerak baru bagi pasar. Penjualan ritel AS pada Juni tumbuh 0,2 persen secara bulanan, sesuai ekspektasi pasar, sementara klaim pengangguran mingguan (initial jobless claims) turun menjadi 208 ribu dari sebelumnya 216 ribu klaim.

“Data ekonomi AS sejauh ini masih sesuai dengan proyeksi pasar sehingga belum memberikan kejutan yang mampu mengubah arah pergerakan pasar keuangan. Di sisi lain, agenda ekonomi di kawasan Asia juga relatif sepi sehingga pelaku pasar cenderung mengambil sikap menunggu,” ujar Gunawan.

Pada perdagangan pagi, mayoritas bursa saham Asia dibuka melemah. IHSG juga sempat terkoreksi setelah sebelumnya dibuka di level 6.112. Menurut Gunawan, pelemahan tersebut dipengaruhi sentimen negatif dari pasar regional serta meningkatnya kembali ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

Ia menjelaskan, pasar masih mencermati potensi gangguan di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis bagi distribusi minyak dunia. Kekhawatiran terhadap kemungkinan penutupan jalur tersebut dinilai dapat memicu lonjakan harga minyak mentah hingga menembus 100 dolar AS per barel.

“Selama belum terjadi blokade di Selat Hormuz, kenaikan harga minyak masih relatif terkendali. Namun meningkatnya konflik tetap membuat pelaku pasar waspada karena berpotensi mengganggu rantai pasok energi global,” katanya.

Saat ini harga minyak mentah Brent masih bertahan di kisaran 85 dolar AS per barel, menunjukkan pasar masih menunggu perkembangan terbaru dari konflik tersebut.

Di pasar domestik, rupiah justru menunjukkan ketahanan dengan diperdagangkan menguat di sekitar Rp17.940 per dolar AS. Gunawan menilai stabilitas rupiah masih didukung tingginya daya tarik imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang masih menjadi incaran investor.

Sementara itu, harga emas dunia melemah ke kisaran 3.982 dolar AS per troy ons, atau sekitar Rp2,3 juta per gram. Koreksi harga emas dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi inflasi akibat harga minyak yang masih bertahan tinggi.

“Harga emas diperkirakan berkonsolidasi di sekitar level 4.000 dolar AS per troy ons. Adapun untuk perdagangan hari ini, baik rupiah maupun IHSG diproyeksikan bergerak sideways sambil menunggu sentimen baru dari pasar global,” tutup Gunawan. (R)

Share: