MEDAN, Index Sumut – Harga emas dunia kembali menunjukkan tajinya. Harga logam mulia tersebut melonjak hingga menembus US$4.500 per troy ounce, di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.
Menariknya, lonjakan harga emas terjadi bersamaan dengan penguatan pasar keuangan domestik. Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kompak bergerak positif pada perdagangan pagi.
Pengamat Ekonomi Sumut Gunawan Benjamin mengatakan kondisi pasar global saat ini masih sangat dipengaruhi oleh pergerakan dolar AS dan imbal hasil surat utang pemerintah AS.
“Penurunan imbal hasil US Treasury memberikan ruang bagi pasar keuangan untuk bergerak lebih positif. Di saat yang sama, pelemahan dolar AS turut memberikan katalis bagi rupiah,” kata Gunawan, Kamis (20/8).
Yield US Treasury tenor 10 tahun terpantau turun ke kisaran 4,641% setelah Departemen Keuangan AS menyatakan akan meningkatkan pembelian kembali surat utang pemerintah.
Rencana buyback tersebut dinilai mampu meredam tekanan jual di pasar obligasi AS. Dampaknya, yield US Treasury mengalami penurunan dan memberikan sedikit ruang bagi aset berisiko untuk bergerak lebih baik.
Sementara itu, USD Index turun ke sekitar level 98,8. Pelemahan dolar AS tersebut kemudian memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat.
Pada perdagangan pagi, rupiah terpantau berada di kisaran Rp17.790 per dolar AS. IHSG juga dibuka menguat hingga menyentuh level 6.447.
The Fed Jadi Perhatian
Pergerakan pasar juga dipengaruhi hasil FOMC Minutes Federal Reserve. Notulen rapat tersebut memberikan sinyal bahwa The Fed masih memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga acuannya.
Peluang pemangkasan suku bunga tetap terbuka, tetapi sangat bergantung pada perkembangan inflasi AS.
Gunawan menilai kondisi tersebut untuk sementara memberikan kepastian bagi pasar bahwa The Fed tidak berada dalam posisi untuk kembali menaikkan suku bunga.
“Selama tidak ada kejutan dari sisi inflasi, pasar akan melihat peluang kenaikan suku bunga The Fed relatif kecil. Ini tentunya menjadi sentimen yang lebih positif bagi pasar keuangan,” jelasnya.
Namun, investor tetap diminta tidak mengabaikan risiko eksternal. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi salah satu faktor utama yang dapat mengubah arah pasar secara cepat.
Emas Justru Terbang Tinggi
Di tengah penguatan IHSG dan rupiah, emas justru mencatat kenaikan yang jauh lebih agresif.
Harga emas dunia mencapai US$4.497 per troy ounce dan bahkan sempat diperdagangkan di atas US$4.500 per troy ounce pada sesi perdagangan Amerika Serikat.
Jika dikonversikan ke rupiah, harga emas tersebut setara sekitar Rp2,58 juta per gram.
Gunawan menilai tingginya harga emas menunjukkan investor masih membutuhkan aset pelindung nilai di tengah ketidakpastian global.
“Emas tetap mendapatkan dukungan dari ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global. Ketika investor membutuhkan aset yang dianggap lebih aman, emas biasanya menjadi salah satu tujuan utama,” ujarnya.
Sementara itu, harga minyak mentah Brent masih bertahan di kisaran US$91,9 per barel. Harga minyak tetap tinggi karena pasar masih mencermati situasi di kawasan Timur Tengah, terutama risiko yang berkaitan dengan Selat Hormuz.
Menurut Gunawan, selama konflik geopolitik belum menunjukkan tanda-tanda mereda, harga komoditas energi dan emas masih berpotensi mengalami volatilitas tinggi.
Dengan kondisi tersebut, penguatan rupiah dan IHSG pada perdagangan pagi menjadi angin segar bagi pasar domestik. Namun, investor tetap perlu mencermati perkembangan global karena perubahan sentimen dapat berlangsung sangat cepat. (R)





