MEDAN, Index Sumut – Belakangan muncul kekuatiran bahwa MBG (makan bergizi gratis) akan membuat harga sejumlah kebutuhan pokok naik, atau bahkan kelangkaan bahan pangan akan terjadi.

Ketua Tim Pemantau Harga Pangan Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, dari hasil penelusuran yang dia lakukan setidaknya ditemukan sejumlah fakta antara lain, pertama, jumlah SPPG di Sumut naik cukup signifikan dari 250 pada bulan September 2025 menjadi 750 pada akhir Desember 2025.

“Jelas peningkatan tersebut terjadi karena akselerasi kebijakan pemerintah pusat dan daerah dalam mengakselerasi program nasional. Dan jumlahnya diproyeksikan akan naik lebih dari 2 kali lipat di tahun 2026. Sehingg wajar saja terjadi peningkatan permintaan atau demand,” ujar Gunawan, Senin (12/1).

Kedua, dari hasil observasi juga ditemukan bahwa TPID aktif melakukan koordinasi bekerjasama dengan koordinator KPPG untuk membeli bahan pangan lewat produsen yang kelasnya level UMKM.

“Di sini saya menemukan bahwa koordinator wilayah KPPG (kantor pelayanan pemenuhan gizi) aktif melakukan perencanaan pembelian kebutuhan pangan secara terkoordinir.

Ketiga, dari hasil observasi ke sejumlah produsen seperti daging ayam, telur ayam, daging sapi, ikan segar hingga beras. Produsen pada dasarnya masih mampu menyanggupi permintaan kebutuhan bahan pangan untuk MBG. Keempat, laju tekanan inflasi yang naik di Desember 2025 silam lebih didominasi oleh faktor bencana.

“Jadi menurut hemat saya medan perang inflasi karena MBG itu baru dimulai di tahun 2026 ini. Untuk itu kita himbau agar KPPG, Produsen, TPID Sumut dan Pemerintah bersinergi agar distribusi barang bisa lebih terukur dan terkoordinasi sehingga MBG tidak memicu terjadinya kenaikan harga,” ujarnya.

Gunawan mengingatkan, jangan biarkan SPPG (satuan pelayanan pemenuhan gizi) melakukan pembelian secara sporadis dan massif di pasar. Inflasi bisa ditekan sekalipun ada MBG.

“Kita berharap agar program pemerintah ini bisa dieksekusi dengan baik di lapangan tanpa menimbulkan masalah serius ke ekonomi. Sudah pasti MBG akan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, mengurangi jumlah angka pengangguran serta menghidupan ekonomi lokal. Tetapi dampak inflasinya juga harus diminimalisir, dan saya yakin itu bisa dilakukan,” ujarnya.

Karena dari hasil wawancara dengan produsen, lanjut Gunawan, mereka masih menyanggupi tren kenaikan permintaan untuk kebutuhan lauk MBG.

“Dan saya menghitung dampak ke inflasi di tahun 2025 juga relatif minim. Di tengah tekanan ekonomi saat ini, MBG memang menjadi salah satu jalan untuk menggerakkan perekonomian. Naik dari sisi peningkatan output maupun penyerapan tenaga kerja,” pungkasnya. (R)

Share: