BATU BARA, Index Sumut – Seorang guru sekolah dasar UPTD SDN 30 Pasar Lapan, Kab. Batu Bara, Hotma Wulansari Sitohang atau yang akrab disapa Bu Wulan, menciptakan media pembelajaran sederhana bernama “Tangan Pintar Ku” guna membantu siswa kelas I menguasai kemampuan literasi awal, khususnya membaca dan menulis.

Media tersebut lahir dari kebutuhan pembelajaran di kelas, di mana sejumlah siswa masih mengalami kesulitan membedakan bunyi huruf dan bunyi awal pada suku kata tertentu. Kondisi ini semakin menantang karena beberapa siswa diketahui tidak mengenyam pendidikan taman kanak-kanak sebelumnya.

“Tangan Pintar Ku” dibuat dari bahan sederhana berupa karton dan kertas origami berwarna. Proses pembuatannya diawali dengan menjiplak tangan salah satu siswa di atas kertas origami hingga membentuk lima pola tangan kecil. Potongan tersebut kemudian ditempelkan pada karton tebal sebagai alas media.

Setiap pola tangan digunakan untuk mewakili bunyi huruf vokal dan beberapa huruf konsonan, terutama bagi siswa yang masih mengalami kesulitan belajar. Dalam praktiknya, guru menuliskan suku kata tertentu di papan karton, kemudian siswa diminta menempelkan tangan sesuai dengan bunyi yang diucapkan.

Sebagai contoh, saat guru menuliskan suku kata “bu”, siswa harus mencocokkan dengan suku kata yang tepat hingga membentuk kata “buku”. Metode ini juga dikembangkan untuk suku kata lain seperti ba-bi-bu-be-bo serta kata berakhiran “ng” seperti bayang, bohong, dan karang bagi siswa yang sudah lebih lancar membaca.

Menurut Bu Wulan yang merupakan Fasilitator Daerah (Fasda) Tanoto Foundation Kab. Batu Bara ini, penggunaan media ini terbukti membantu siswa lebih cepat mengenali bunyi huruf dan suku kata. Warna origami yang cerah juga dinilai mampu menarik perhatian siswa sehingga pembelajaran menjadi lebih fokus dan menyenangkan.

Beberapa perubahan terlihat pada siswa, termasuk mereka yang sebelumnya pasif atau kurang percaya diri dalam membaca. Suasana kelas menjadi lebih interaktif karena pembelajaran dikemas dalam bentuk permainan tempel yang disukai anak-anak.

Guru kelas IB yang turut berkolaborasi dalam pengembangan media tersebut menyebutkan bahwa metode ini membuat proses belajar terasa lebih ringan. “Kalau pakai media seperti ini, tidak terasa waktunya dan anak-anak lebih senang,” ujarnya.

Bu Wulan menegaskan bahwa media pembelajaran tidak harus mahal atau berbasis teknologi tinggi. Dengan kreativitas, bahan sederhana seperti karton bekas dan kertas origami dapat menjadi alat bantu efektif dalam meningkatkan kemampuan literasi awal siswa.

Ke depan, ia berencana mengembangkan media serupa untuk variasi huruf dan bunyi lainnya guna mendukung peningkatan kemampuan membaca siswa kelas awal. (R)

Share: