JAKARTA, Index Sumut – Pemerintah memastikan stok pupuk nasional berada dalam kondisi aman, bahkan berpeluang untuk ekspor di tengah krisis produksi global yang dipicu konflik geopolitik di Timur Tengah.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan bahwa kebijakan pembayaran subsidi pupuk di awal tahun menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas produksi dalam negeri.
“Karena kita bayar subsidi pupuk di depan, lebih dari Rp20 triliun di awal tahun. Jadi cost of capital mereka turun, tidak perlu pinjam ke bank,” ujar Purbaya di Jakarta Selatan, dikutip pada Minggu (26/4/2026).
Menurutnya, skema subsidi di muka memungkinkan produsen memperoleh dana lebih cepat untuk pengadaan bahan baku. Subsidi diberikan sebelum proses produksi dan distribusi, berdasarkan selisih antara harga komersial dan Harga Eceran Tertinggi (HET).
Dengan mekanisme tersebut, produsen pupuk dapat beroperasi lebih efisien dan responsif terhadap kebutuhan pasar.
“Mereka bisa beroperasi dengan cepat dan lebih efisien. Kalau punya duit kan gampang beli ini, beli itu. Sehingga kita sekarang produksinya, kata Menteri Pertanian, sudah tinggi dan bahkan siap ekspor ketika dunia lagi pusing di pupuk,” jelasnya.
Di saat banyak negara menghadapi tekanan produksi, Indonesia justru menunjukkan tren sebaliknya. Purbaya menjelaskan bahwa konflik antara Iran dan Amerika Serikat telah mengganggu rantai pasok global, termasuk distribusi melalui Selat Hormuz serta memicu lonjakan harga gas alam—komponen utama produksi pupuk, khususnya urea.
Kondisi tersebut menyebabkan biaya produksi meningkat tajam di berbagai negara dan memicu kelangkaan pupuk di pasar internasional.
“Padahal kita mikirnya (krisis) BBM aja, tapi di World Bank dan IMF juga disebutkan pupuk,” tutur dia.
Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman ранее mengungkapkan bahwa Indonesia telah menerima permintaan impor pupuk urea dari sejumlah negara, di antaranya India, Australia, Filipina, dan Brasil.
India disebut mengajukan permintaan sekitar 500 ribu ton pupuk urea, sedangkan Australia telah menyepakati pengiriman tahap awal sebesar 250 ribu ton.
Dengan meningkatnya permintaan global dan stabilnya produksi dalam negeri, Indonesia kini berada pada posisi strategis sebagai salah satu pemasok pupuk di tengah krisis yang melanda dunia. (invid)





