MEDAN, Index Sumut – Kinerja ekspor Provinsi Sumatera Utara pada triwulan pertama 2026 menunjukkan tren positif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor melalui pelabuhan muat di wilayah Sumatera Utara sepanjang Januari–Maret 2026 mencapai US$2,97 miliar atau tumbuh 1,93 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara, Asim Saputra mengatakan, meskipun secara kumulatif mengalami kenaikan, kinerja ekspor pada Maret 2026 justru mengalami penurunan secara tahunan.

“Nilai ekspor pada Maret 2026 tercatat sebesar US$867,09 juta, turun 12,46 persen dibandingkan Maret 2025 yang mencapai US$990,46 juta,” ujarnya, Senin (4/5).

Dari sisi sektor, Asim menjelaskan bahwa sektor industri masih menjadi penopang utama ekspor Sumatera Utara. Sepanjang Januari–Maret 2026, sektor industri mencatat peningkatan sebesar US$115,66 juta atau tumbuh 4,29 persen.

“Kontribusi sektor industri terhadap total ekspor sangat dominan, mencapai 94,68 persen. Sementara sektor pertanian hanya berkontribusi sebesar 5,31 persen dan mengalami penurunan sebesar US$59,62 juta atau minus 27,45 persen,” jelasnya.

Berdasarkan golongan barang, peningkatan terbesar terjadi pada produk kimia yang naik US$74,80 juta atau 17,02 persen, disusul aluminium yang melonjak US$24,35 juta atau 48,05 persen.

Sebaliknya, penurunan terdalam terjadi pada komoditas kopi, teh, dan rempah-rempah yang turun US$59,06 juta atau 38,97 persen. Selain itu, golongan karet dan barang dari karet juga mengalami penurunan sebesar US$8,31 juta atau 3,23 persen.

“Asim menyebutkan, sepuluh golongan barang utama masih mendominasi ekspor Sumatera Utara dengan kontribusi mencapai 89,71 persen, sementara sisanya sebesar 10,29 persen berasal dari komoditas lainnya,” tambahnya.

Dari sisi negara tujuan, tiga negara utama yakni Tiongkok, Amerika Serikat, dan India masih menjadi pasar terbesar ekspor Sumatera Utara. Nilai ekspor ke masing-masing negara tersebut mencapai US$518,03 juta, US$381,46 juta, dan US$206,47 juta dengan total kontribusi sebesar 37,25 persen.

Selain itu, kawasan Asia di luar ASEAN menjadi tujuan utama ekspor dengan porsi mencapai 39,13 persen. Negara seperti Jepang dan Bangladesh juga menunjukkan potensi besar dengan nilai ekspor masing-masing sebesar US$151,51 juta dan US$122,18 juta.

Namun demikian, terdapat penurunan ekspor ke beberapa negara, dengan Malaysia mencatat penurunan terbesar yakni sebesar US$14,99 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Kami melihat struktur ekspor Sumatera Utara masih kuat ditopang sektor industri, namun perlu perhatian pada sektor pertanian yang mengalami kontraksi cukup dalam,” pungkas Asim. (R)

Share: