MEDAN, Index Sumut – Sejumlah harga kebutuhan pokok di pekan kedua Mei mulai menunjukkan tren kenaikan. Komoditas seperti cabai, tomat, daging sapi, beras hingga aneka sayuran mengalami kenaikan harga di pasaran. Meski demikian, sebagian harga tersebut dinilai masih berada di bawah harga keekonomian.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, kenaikan harga pangan saat ini sebenarnya belum sepenuhnya mencerminkan kenaikan biaya produksi yang terjadi di tingkat petani maupun peternak.
“Harga cabai misalnya masih berada di kisaran Rp28 ribu hingga Rp33 ribu per kilogram. Secara keekonomian sebenarnya harga itu masih tergolong rendah,” ujar Gunawan Benjamin, Rabu (13/5/2026).
Menurutnya, kondisi serupa juga terjadi pada beras medium yang saat ini diperdagangkan di kisaran Rp13.800 hingga Rp14.300 per kilogram. Harga tersebut dinilai masih cukup rendah apabila dibandingkan dengan harga gabah kering giling (GKG) yang sudah berada di level Rp8 ribuan per kilogram di tingkat penggilingan.
Sementara itu, harga daging sapi yang naik ke kisaran Rp140 ribu per kilogram juga disebut belum sepenuhnya mencerminkan kenaikan biaya di sektor peternakan. Saat ini harga sapi hidup di tingkat peternak telah melonjak dari kisaran Rp55 ribu hingga Rp57 ribu menjadi sekitar Rp64 ribu per kilogram.
Sedangkan untuk komoditas tomat, kenaikan harga dinilai lebih dipengaruhi oleh terbatasnya pasokan di pasar. Harga tomat saat ini berada di kisaran Rp18 ribu per kilogram akibat penurunan supply dari sentra produksi.
Gunawan sebelumnya telah memperingatkan potensi kenaikan inflasi pada Mei hingga Juni mendatang. Menurutnya, kenaikan harga pokok produksi (HPP) di sektor pangan akan mendorong naiknya harga sejumlah komoditas pertanian.
“Kenaikan biaya produksi saat ini cukup besar, terutama dari sisi input pertanian. Ini sangat berpotensi mendorong kenaikan harga pangan ke depan,” katanya.
Selain kenaikan harga, masyarakat juga menghadapi fenomena shrinkflation atau penyusutan ukuran produk. Dalam kondisi ini, harga barang tetap namun kuantitas atau ukuran produk dikurangi oleh produsen.
Menurut Gunawan, kondisi tersebut membuat tekanan terhadap masyarakat semakin terasa, terlebih daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.
“Yang menjadi persoalan sekarang, masyarakat sudah mulai mengeluhkan kenaikan harga kebutuhan pokok. Padahal banyak komoditas sebenarnya belum berada pada harga keekonomiannya,” ungkapnya.
Ia menilai masih banyak komoditas pangan yang berpotensi mengalami kenaikan harga menyesuaikan biaya produksi. Jika harga tidak naik, maka petani maupun peternak berisiko mengalami kerugian yang pada akhirnya dapat mengganggu pasokan pangan di masa mendatang.
Gunawan juga menyoroti tantangan pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan daya beli masyarakat. Menurutnya, pemerintah tidak bisa terus bergantung pada kebijakan bantuan sosial semata tanpa mendorong pemulihan sektor usaha produktif.
“Pemerintah ke depan punya tugas berat memperbaiki daya beli masyarakat. Jangan sampai terlalu bergantung pada bansos, sementara sektor produktif tidak diperkuat,” tegasnya.
Ia menambahkan, intervensi harga tanpa memberikan insentif kepada petani maupun peternak juga bukan solusi jangka panjang karena dapat menekan keberlangsungan usaha sektor pangan nasional. (R)





