MEDAN, Index Sumut – Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Medan kembali menjadi pusat diskusi strategis pertanian nasional. Polbangtan Medan menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Peran Pemuliaan Tanaman dalam Menghasilkan Varietas Unggul Adaptif Terhadap Perubahan Iklim”, yang dilaksanakan secara hybrid (daring dan luring), Rabu (13/5).

Kegiatan ini diikuti seluruh mahasiswa Jurusan Pertanian, serta dihadiri pejabat, akademisi, dan praktisi pertanian. Acara dipandu dengan lancar oleh Makruf Wicaksono sebagai moderator.

Narasumber utama kegiatan ini adalah Guru Besar Universitas Brawijaya, Kuswanto. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa pemuliaan tanaman bukan sekadar kegiatan penelitian biasa, melainkan serangkaian proses penemuan, pengujian, dan pengembangan untuk menciptakan varietas baru yang unggul, sekaligus menjaga kemurnian benih yang dihasilkan.

“Perubahan iklim akibat aktivitas manusia kini menjadi ancaman nyata. Perubahan pola suhu, curah hujan, serta seringnya terjadi cuaca ekstrem seperti kekeringan, banjir, dan suhu panas tinggi, menimbulkan dua tekanan besar bagi tanaman, yaitu cekaman biotik berupa serangan hama dan penyakit, serta cekaman abiotik seperti kekeringan, genangan air, dan tingginya kadar garam tanah,” papar Kuswanto.

Ia juga mengingatkan tantangan besar yang dihadapi dunia pertanian. Berdasarkan prediksi Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), pada tahun 2050 kebutuhan pangan dunia akan naik hingga 70% untuk memberi makan sekitar 9 miliar jiwa penduduk bumi. Di sisi lain, ketersediaan plasma nutfah atau bahan genetik tanaman yang menjadi modal utama pemuliaan justru semakin menyusut jumlahnya.

Menjawab tantangan tersebut, Kuswanto memaparkan strategi utama pemuliaan tanaman adaptif iklim. Proses ini memang kompleks dan memakan waktu lama, namun kunci keberhasilannya terletak pada pemilihan materi genetik yang tepat — mulai dari galur lokal, jenis introduksi, hingga hasil mutasi.

Ia juga menekankan pentingnya memanfaatkan underutilised crops atau tanaman lokal yang selama ini kurang dimanfaatkan, karena jenis-jenis ini terbukti memiliki daya tahan lebih kuat terhadap perubahan iklim. Selain itu, metode seleksi harus dilakukan langsung di lokasi dan kondisi lingkungan yang sesuai, serta menerapkan pemuliaan partisipatif yang melibatkan kerja sama erat antara pemulia tanaman dan petani di lapangan.

“Pada akhirnya, pemuliaan tanaman berperan ganda: meningkatkan hasil produksi, menciptakan varietas tahan hama dan lingkungan, menyelamatkan kekayaan plasma nutfah kita, serta mengangkat kembali potensi tanaman lokal yang telah lama terabaikan,” tegasnya.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mengatakan bahwa pemuliaan tanaman adalah fondasi utama ketahanan pangan nasional, terutama di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata.

“Kami sangat mendukung upaya penciptaan varietas unggul yang tidak hanya berproduksi tinggi, tetapi juga tangguh menghadapi berbagai tekanan lingkungan. Langkah ini harus berjalan beriringan dengan pelestarian plasma nutfah dan pemberdayaan sumber daya manusia pertanian, agar Indonesia tetap mampu memenuhi kebutuhan pangan rakyat dan berkontribusi bagi dunia. Generasi muda pertanian adalah pelaku utama yang akan meneruskan perjuangan ini dengan inovasi dan dedikasi tinggi,” kata Mentan Amran.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, Idha Widi Arsanti juga menyampaikan bahwa pendidikan pertanian harus selalu selaras dengan tantangan zaman.

“Kuliah umum seperti ini sangat penting untuk membekali mahasiswa dengan pengetahuan mutakhir, mulai dari teknik pemuliaan hingga strategi adaptasi iklim,” kata Arsanti.

“Kami ingin menciptakan lulusan yang tidak hanya paham teori, tetapi juga mampu menerapkan teknologi tepat guna, memanfaatkan kekayaan hayati lokal, dan berkolaborasi dengan berbagai pihak. Sumber daya manusia yang kompeten adalah kunci agar inovasi di bidang pemuliaan tanaman dapat turun ke lapangan dan memberi manfaat nyata bagi petani,” tambahnya.

Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pertanian, Muhammad Amin menyampaikan kalau perubahan iklim menuntut kita untuk terus berinovasi dan tidak berhenti mencari solusi. Pemuliaan tanaman adalah salah satu jawaban strategis, namun keberhasilannya sangat bergantung pada metode yang tepat, pemilihan materi genetik yang unggul, serta keterlibatan semua pemangku kepentingan.

“Kami mendukung penuh penguasaan ilmu ini oleh mahasiswa, serta mendorong pengembangan sistem pendidikan yang mampu mengintegrasikan penelitian, pelestarian plasma nutfah, dan pemanfaatan tanaman lokal yang berpotensi besar namun sering terlewatkan,” kata Amin.

Direktur Polbangtan Medan, Nurliana Harahap dalam sambutannya mengatakan, melalui kuliah umum ini seluruh mahasiswa dapat berinovasi dalam menghasilkan varietas unggul yang adaptif terhadap perubahan iklim.

“Saya berharap kegiatan ini dapat membuka wawasan kita bahwa sektor pertanian, khususnya pemuliaan tanaman, bukan hanya soal teknik penanaman, tetapi juga tentang tanggung jawab menjaga ketersediaan pangan, melestarikan warisan genetik bangsa, dan beradaptasi demi masa depan,” kata Nurliana.

Di samping pemaparan materi kuliah umum, kegiatan ini juga menjadi momen bersejarah dengan dilaksanakannya penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Polbangtan Medan dan Asosiasi Jurnal Pertanian Indonesia. Kerja sama ini berfokus pada pengelolaan dan penerbitan jurnal ilmiah pertanian, guna mendukung penyebaran ilmu pengetahuan dan hasil penelitian yang berkualitas.

“Penandatanganan kerja sama dengan Asosiasi Jurnal Pertanian Indonesia hari ini juga menjadi langkah nyata kami dalam memajukan dunia ilmiah pertanian. Semoga forum ini menjadi ruang belajar, berdiskusi, dan menumbuhkan semangat generasi muda pertanian untuk terus berinovasi secara berkelanjutan, serta berkontribusi lewat karya tulis dan penelitian yang bermanfaat luas,” tambah Nurliana.

Kegiatan berlangsung dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Mahasiswa menyampaikan bahwa materi yang disampaikan membuka pandangan baru mengenai pentingnya pemuliaan tanaman dan potensi besar tanaman lokal dalam menjawab tantangan iklim. Sinergi antara kegiatan akademik, penelitian, dan kerja sama kelembagaan ini diharapkan semakin memperkuat peran Polbangtan Medan sebagai pencetak tenaga ahli pertanian yang andal, adaptif, dan berwawasan keberlanjutan. (R)

Share: