MEDAN, Index Sumut – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan pekan ini dengan menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan rupiah terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS (USD Index) yang bergerak menuju level 101, sementara pelaku pasar juga bersiap menghadapi sederet agenda ekonomi penting dalam dan luar negeri sepanjang pekan ini.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.980 hingga Rp18.050 per dolar AS pada perdagangan hari ini, Senin (6/7). Menurutnya, tekanan terhadap rupiah dipicu oleh menguatnya dolar AS yang kembali menjadi pilihan investor global.
“Penguatan USD Index menjadi salah satu faktor utama yang menekan pergerakan rupiah pada awal pekan ini. Pasar masih cenderung berhati-hati menunggu sejumlah data ekonomi penting yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan,” ujar Gunawan.
Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru memulai perdagangan dengan sentimen positif. IHSG dibuka menguat ke level 5.893 sebelum sempat terkoreksi tipis ke level 5.864 pada sesi perdagangan pagi.
Menurut Gunawan, penguatan IHSG masih didukung oleh pergerakan positif mayoritas bursa saham Asia. Namun, sentimen domestik akibat pelemahan rupiah masih menjadi faktor yang membatasi ruang penguatan indeks.
“Pergerakan IHSG masih relatif sejalan dengan bursa regional. Akan tetapi, pelemahan nilai tukar rupiah tetap menjadi beban bagi pasar saham domestik sehingga investor masih cenderung selektif,” jelasnya.
Ia menambahkan, sepanjang pekan ini pasar keuangan nasional akan dibanjiri sejumlah rilis data ekonomi yang berpotensi menjadi penggerak utama pasar. Beberapa indikator yang akan diumumkan antara lain data cadangan devisa, indeks kepercayaan konsumen, penjualan ritel, hingga penjualan kendaraan bermotor.
“Serangkaian data tersebut akan memberikan gambaran mengenai kondisi ekonomi nasional dan akan menjadi pertimbangan investor dalam mengambil keputusan investasi,” katanya.
Tidak hanya faktor domestik, pasar juga akan mencermati agenda penting dari Amerika Serikat. Gunawan menjelaskan, pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) serta lelang obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berpotensi memengaruhi pergerakan pasar keuangan global, termasuk nilai tukar rupiah.
“Keputusan dan sinyal dari FOMC, ditambah hasil lelang obligasi pemerintah AS, akan menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat memengaruhi pergerakan imbal hasil obligasi dan arah aliran modal ke negara berkembang,” ujarnya.
Sementara itu, harga emas dunia terpantau bergerak stabil di kisaran 4.178 dolar AS per ons troy. Di pasar domestik, harga emas berada di sekitar Rp2,43 juta per gram. Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh level 4.200 dolar AS per ons troy pada akhir pekan lalu.
Gunawan menilai harga emas masih memperoleh dukungan dari ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS akan menunda kenaikan suku bunga acuannya. Kondisi tersebut membuat aset safe haven seperti emas tetap diminati investor di tengah ketidakpastian pasar global. (R)





