MEDAN, Index Sumut – Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Medan menggelar kuliah umum secara hybride pada Sabtu, 4 Juli 2026, menghadirkan narasumber ahli sekaligus Kepala Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Lampung, Adi Destriadi. Acara ini diikuti penuh antusiasme oleh seluruh mahasiswa Polbangtan Medan, baik yang hadir langsung maupun yang bergabung melalui daring.
Kuliah umum ini mengangkat topik spesifik dan sangat relevan dengan kebutuhan pertanian nasional saat ini, yaitu Penerapan Smart Farming di Lahan Cabai serta Analisis Usaha Tani Tanaman Cabai. Materi yang disampaikan memadukan teori ilmiah, pengalaman praktis di lapangan, hingga peluang ekonomi yang menjanjikan bagi generasi petani muda.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman pernah menyampaikan bahwa Pertanian tidak lagi sekadar mencangkul dan menanam, melainkan tentang memanfaatkan teknologi untuk melipatgandakan hasil, menekan biaya, dan menjamin kesejahteraan petani.
“Smart Farming adalah kunci kita menghadapi tantangan perubahan iklim dan kebutuhan pangan yang terus meningkat. Saya berharap mahasiswa Polbangtan Medan menjadi pelopor yang membawa teknologi ini turun ke desa-desa,” kata Mentan Amran.
Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti menekankan pentingnya kualitas sumber daya manusia.
“Teknologi canggih sekalipun tidak akan bermanfaat jika tidak dipegang oleh orang-orang yang kompeten dan berdedikasi. Kuliah umum seperti ini adalah bukti nyata upaya kita membentuk generasi petani yang tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga tangguh dalam berwirausaha,” kata Arsanti.
Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Kapusdiktan), Muhammad Amin juga menyampaikan apresiasinya untuk terus mendorong kolaborasi antara balai pelatihan, perguruan tinggi, dan pelaku industri.
“Kehadiran narasumber praktisi seperti Bapak Destriadi memberikan wawasan nyata yang tidak didapatkan di ruang kelas saja, sehingga mahasiswa siap terjun langsung ke dunia kerja,” ungkap Amin.
Sementara itu, Direktur Polbangtan Medan, Nurliana Harahap menyambut baik terselenggaranya kegiatan ini.
“Kami berkomitmen menjadikan Polbangtan Medan sebagai pusat pembelajaran pertanian modern. Kuliah umum ini menjadi jembatan bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana ilmu yang dipelajari diterapkan secara nyata, khususnya pada komoditas cabai yang memiliki nilai ekonomi tinggi namun penuh tantangan,” kata Nurliana.
Dalam pemaparannya, Adi Destriadi menjelaskan keunggulan teknologi Smart Farming hasil rancangan BPP Lampung dibandingkan produk serupa yang ada di pasaran, yang dikembangkan khusus agar bisa diakses oleh seluruh lapisan petani.
Pertama, dari segi biaya, teknologi ini jauh lebih murah dibandingkan produk lain. Modul ini dirancang menggunakan komponen yang harganya terjangkau namun tetap berkualitas tinggi, serta memiliki fungsi kerja yang sama baiknya dengan perangkat canggih. Selain itu, desainnya juga disesuaikan agar cocok dengan berbagai jenis suku cadang yang banyak beredar di pasaran.
Kedua, konsumsi daya alatnya sangat rendah. Modul ini membutuhkan pasokan listrik yang jauh lebih sedikit dibandingkan produk sejenis, sehingga bisa berjalan dengan lancar meski di daerah yang memiliki akses listrik terbatas atau menggunakan sumber energi alternatif seperti tenaga surya.
Ketiga, pengoperasiannya sangat mudah. Sistem ini sudah terintegrasi dengan aplikasi yang dikembangkan sendiri oleh BPP Lampung, sehingga siapa saja bisa mempelajari dan menggunakannya tanpa membutuhkan keahlian teknis yang rumit.
Keempat, perbaikan dan penggantian suku cadang tidak sulit. Komponen yang dipakai adalah jenis yang mudah ditemukan di pasar umum, sehingga petani atau pengelola bisa membongkar, merakit, atau mengganti bagian yang rusak sendiri dengan biaya murah, tanpa harus menunggu pesanan khusus dari luar daerah.
Terakhir, perawatannya juga sederhana. Berbeda dengan produk lain yang butuh penanganan khusus, perawatan modul ini cukup dilakukan dengan membersihkan kotoran secara berkala dan memastikan pasokan listrik terhubung dengan baik ke perangkat.
Selain penjelasan teknologi, Adi Destriadi juga memaparkan secara mendalam analisis usaha tani tanaman cabai. Ia mengingatkan calon petani muda untuk tidak hanya menguasai teknik budidaya, tetapi juga mampu menghitung modal, menilai risiko, serta merencanakan keuntungan agar usaha pertanian yang dijalani bisa berjalan berkelanjutan dan menyejahterakan.
Di akhir pemaparan, ia menyampaikan pesan penyemangat bagi seluruh mahasiswa.
“Otak manusia terus berkembang sepanjang hayat. Ia akan menjadi lebih cerdas dan tangguh jika kita berani memberikan rangsangan baru, berani berinovasi, dan tidak takut belajar hal baru. Inilah yang harus kalian terapkan untuk membawa pertanian Indonesia ke level yang lebih tinggi,” katanya mengakhiri pemaparannya.
Kegiatan kuliah umum ini ditutup dengan sesi tanya jawab yang hangat, di mana mahasiswa antusias bertanya mengenai tantangan penerapan teknologi di lahan petani kecil hingga peluang pasar produk cabai berbasis Smart Farming. Diharapkan wawasan ini menjadi bekal berharga bagi mahasiswa sebagai calon petani dan penyuluh pertanian masa depan. (R)





