MEDAN, Index Sumut – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Utara mencatat kinerja sektor perbankan di wilayah Sumatera Utara hingga November 2025 tetap berada dalam kondisi terjaga, dengan fungsi intermediasi yang berjalan baik di tengah tantangan perlambatan ekonomi global.
Kepala OJK Provinsi Sumatera Utara, Khoirul Muttaqien, menyampaikan bahwa penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan di Sumatera Utara mencapai Rp338,4 triliun atau tumbuh 3,40 persen secara tahunan (year on year/YoY).
Sementara itu, penyaluran kredit tercatat sebesar Rp313,1 triliun, tumbuh 7,38 persen (YoY), meskipun sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan kredit pada bulan sebelumnya.
“Secara umum, kinerja perbankan di Sumatera Utara masih terjaga. Pertumbuhan kredit tetap lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan DPK, mencerminkan peran perbankan dalam mendorong aktivitas ekonomi daerah,” ujar Khoirul Muttaqien dalam siaran persnya, Selasa (13/1/2026).
Dari sisi komposisi, kredit perbankan di Sumatera Utara masih didominasi oleh kredit modal kerja dengan porsi outstanding sebesar 43,61 persen. Kredit konsumsi menempati posisi kedua dengan porsi 29,84 persen, sementara kredit investasi mencapai 26,55 persen dan mencatat pertumbuhan paling tinggi, yakni 20,04 persen (YoY).
“Kredit investasi yang tumbuh signifikan menunjukkan adanya peningkatan aktivitas penanaman modal dan optimisme dunia usaha terhadap prospek ekonomi daerah,” jelasnya.
Dari sisi risiko, profil perbankan Sumatera Utara tetap berada pada level yang terkendali. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) tercatat sebesar 1,91 persen, sementara Loan at Risk (LaR) berada di level 5,50 persen.
Sementara itu, kinerja Bank Perekonomian Rakyat (BPR) juga menunjukkan pertumbuhan. Hingga November 2025, total aset BPR di Sumatera Utara meningkat 8,92 persen (YoY) menjadi Rp3,1 triliun. Penyaluran kredit mencapai Rp2,3 triliun atau tumbuh 7,35 persen (YoY), dengan rasio NPL tercatat sebesar 9,84 persen. (R)





