SERGAI, Index Sumut – Pagi itu, langit di Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai, tampak biasa saja. Aktivitas warga berjalan seperti rutinitas harian. Namun di Jalan Umum Dolok Masihul menuju Sei Rampah, tepatnya di Dusun XI, Desa Sei Parit, suasana mendadak berubah mencekam saat sebuah mobil Toyota Avanza BK 1269 ZI terjun ke sungai dalam kondisi terbalik.

Jeritan warga pecah. Orang-orang berkerumun di pinggir jalan, menyaksikan mobil yang perlahan tenggelam bersama dua penumpang di dalamnya.

Di tengah kepanikan itu, muncul seorang perempuan berbaju kerja lapangan berwarna merah. Tanpa banyak berpikir, ia langsung berlari menuju sungai dan menerobos air keruh demi menyelamatkan korban.

Perempuan itu bernama Salbiah (47), seorang petugas kebersihan Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai yang sehari-hari dikenal sebagai bagian dari “pasukan merah”.

Rabu (6/5/2026) itu menjadi hari yang tidak akan pernah ia lupakan. Saat kejadian, Salbiah bersama rekan-rekannya sedang dalam perjalanan mengangkut sampah menuju TPA Pergulaan. Kendaraan mereka mendadak berhenti karena jalan dipenuhi warga yang menyaksikan kecelakaan tunggal tersebut.

Dari kejauhan, Salbiah melihat mobil Avanza sudah dalam posisi terbalik di sungai. Ia mendengar masih ada penumpang yang terjebak di dalam kendaraan.

“Waktu itu semua lihat-lihat saja. Ada yang bilang tidak bisa berenang, ada juga yang takut turun ke sungai,” ujar Salbiah saat ditemui wartawan, Selasa (12/5/2026).

Tanpa menunggu orang lain bergerak, ibu satu anak yang tinggal di Dusun VII, Desa Firdaus, Sei Rampah itu langsung menceburkan diri ke sungai.

“Aku langsung respek aja. Tidak ada satu orang pun yang membantu, jadi aku langsung masuk ke sungai dan mencoba mengeluarkan penumpangnya. Tapi karena aku perempuan, mana kuat tenagaku,” katanya lirih.

Air sungai yang keruh dan posisi mobil yang terbalik membuat proses evakuasi sangat sulit. Dengan tenaga seadanya, Salbiah mencoba membuka akses untuk menyelamatkan korban.

Ia kemudian berteriak meminta bantuan warga lainnya. Salbiah meyakinkan mereka bahwa sungai tidak terlalu dalam. Perlahan, beberapa warga mulai berani turun membantu membalikkan mobil ke posisi normal.

Namun waktu sudah terlambat. Dua korban, yakni DA (30), warga Dusun V Desa Sei Rejo, serta sopir MW (28), warga Desa Pekan Dolok Masihul, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah terlalu lama terendam di dalam mobil.

Di balik keberaniannya, Salbiah menyimpan rasa sedih yang mendalam. Ia mengaku sempat merasa bersalah karena tidak berhasil menyelamatkan kedua korban dalam keadaan hidup.

“Aku pun baru sadar, ternyata waktu membalikkan mobil itu cuma aku sendiri perempuan di situ. Sampai sekarang masih kepikiran juga karena korban tidak bisa diselamatkan,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Bagi warga sekitar, tindakan Salbiah menjadi gambaran keberanian yang lahir dari kepedulian, bukan sekadar profesi atau status sosial. Di saat banyak orang memilih berdiri dan merekam kejadian, ia justru menjadi orang pertama yang turun mempertaruhkan keselamatan dirinya sendiri.

Dari pengalaman memilukan itu, Salbiah berharap masyarakat lebih mengutamakan aksi pertolongan dibanding hanya menjadi penonton.

“Kalau ada musibah, tolong dulu semampunya. Jangan cuma memvideokan,” katanya singkat.

Di tengah derasnya arus kehidupan modern yang sering membuat orang sibuk dengan telepon genggam masing-masing, keberanian Salbiah menjadi pengingat sederhana: rasa kemanusiaan masih hidup, bahkan dari seorang petugas kebersihan yang tak pernah menyangka dirinya akan menjadi penyelamat di tengah tragedi. (Tk)

Share: