Index Sumut – Harga telur ayam mengalami kenaikan sekitar Rp100 per butir berdasarkan hasil pemantauan di sejumlah pasar tradisional di wilayah Deliserdang di pekan ini.

Sementara itu, sejumlah temuan lainnya justru menunjukan kenaikan yang lebih tinggi sekitar Rp300 per butir selama periode 2 pekan terakhir. Kenaikan harga telur ayam saat ini tidak terlepas dari kenaikan harga jagung yang terjadi sebelumnya.

Ketua Tim Pemantau Harga Pangan Sumut, Gunawan Benjamin menyebutkan,
Meksipun kenaikan harga telur ayam belakangan ini belum terjadi dengan serentak, terlebih di pedagang pengecer, namun diperkirakan penurunan harga telur ayam diproyeksikan akan terjadi dalam waktu dekat.

“Salah satu pemicunya adalah penurunan harga pakan seperti jagung. Dimana Bulog mendistribusikan jagung bersubsidi seharga Rp5.000 per kg untuk peternak ayam petelur,” ujar Gunawan, Selasa (27/2).

Dia menyebutkan, dampak dari kebijakan tersebut bukan hanya dirasakan oleh peternak yang mendapatkan subsidi pakan jagung tersebut. Tetapi telah meredam kenaikan harga jagung secara keseluruhan.

“Dari pantauan panel harga jagung maupun survey di lapangan, jagung saat ini ditransaksikan di kisaran Rp6.100 – Rp6.300 per Kg. Setelah sempat naik hingga mencapai Rp7.000 per Kg,” ujar Gunawan.

Dan disisi lainnya, lanjut Gunawan, Bulog juga masih bertahap dalam mendistribusikan jagung bersubsidi. “Yang artinya masih ada distribusi pakan jagung selanjutnya. Sehingga penurunan harga jagung tersebut nantinya diharapkan bisa menekan harga produk turunan dari ayam seperti daging ayam, telur ayam hingga produk unggas lainnya,” harapnya.

Akan tetapi, sambung Gunawan, masalah belum berhenti sampai di sini. Musim panen jagung sudah terlewati, namun faktanya tanpa ada distribusi jagung Bulog harga bisa saja bertahan di angka Rp7.000-an per Kg. Bisa disimpulkan faktor cuaca menjadi salah satu pemicu memburuknya produksi jagung belakangan ini.

“Pemerintah harus menghitung berapa ekspektasi produksi jagung di masa yang akan datang. Dengan harapan ada kebijakan pre-emptive untuk meredam kemungkinan terjadinya gagal panen jagung di masa yang akan datang,” pungkasnya. (R)

Share: